Home / in-Spiration / Perjuangan Aleta Baun, Si Aktivis Lingkungan Hidup
Belajar Dari Perjuangan Aleta Baun Si Aktivis Lingkungan Hidup

Perjuangan Aleta Baun, Si Aktivis Lingkungan Hidup

Aleta Baun, atau lebih akrab di panggil Mama Aleta adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang juga sekaligus menjadi aktivis Perempuan dan Lingkungan Hidup. Dilahirkan dari keluarga petani menjadikannya pribadi yang akrab dengan alam, sangat mencintai tanah kelahirannya dan berusaha untuk menjaga keindahan yang tersaji sampai saat ini.

Mama Aleta mulai melakukan perjuangannya sejak tahun 1990, dimana pegunungan Mutis mulai di lirik oleh industri tambang marmer dan kehutanan yang akan berdampak pada kelestarian hutan sekitar pegunungan Mutis. Perjuangannya dimaksudkan Mama Aleta bahwa keberadaan pegunungan Mutis sangat penting. Berbagai keragaman hayati, pegunungan Mutis juga menjadi sumber utama pemasok air di semua sungai utara di Timor Barat. Selain itu juga bagi suku Molo, merupakan suku asli Nusa Tenggara Timur, juga sangat menggantungkan hidupnya dari kekayaan gunung Mutis. Dari pertanian, mengumpulkan makanan, menenun baju serat yang didapatkan dari alam serta obat-obatan yang juga bersumber dari hutan.

Di desanya, Mama Aleta di kenal sebagai sosok seorang yang gigih. Keyakinannya terhadap kebenaran, dikarenakan demi menjaga suku adat Molo. Suku adat Molo memiliki hubungan rohani dengan tanah dan yakin bahwa segala sesuatu hal akan saling berkaitan. Mereka memiliki semboyan bahwa, ‘tanah merupakan daging, air merupakan darah, batu merupakan tulang, hutan merupakan pembuluh darah dan rambut’. Oleh karena itu Mama Aleta terus berjuang untuk menjaga kelestarian tanah kelahirannya, Gunung Mutis.

Bahkan, pada pertengahan tahun 2000, Mama Aleta dan masyarakat Molo di bantu oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat demi menyelamatkan Gunung Batu Fadli. Aksi yang awalnya di anggap heroik oleh masyarakat setempat sempat menyebabkan Mama Aleta di kejar-kejar oleh masyarakat yang kontra padanya. Secara perlahan akhirnya masyarakat justru mendukung aktivitasnya itu, mengingat bahwa dampak dari pertambangan adalah akan merusak alam yang telah memberikan kehidupan.

Molo saat ini telah berubah menjadi daerah yang rawan longsor, rawan pangan, kekeringan dan terkadang hujan berlebihan. Sebelum ada penambangan, Molo adalah tempat yang indah, wilayah yang kaya akan hasil perkebunan, terutama kopi dan jeruk. Selain kerusakan sumber pangan, yang jelas terlihat adalah hilangnya budaya daerah. Misalnya seperti, selama ini pandangan masyarakat Molo terhadap batu adalah sebuah kekayaan yang bernilai budaya tinggi. Bahkan mereka menamakan marga penduduk dengan nama-nama batu. Dengan adanya penambangan, maka batu-batu di pegunungan menjadi hilang yang artinya tidak ada lagi nama-nama marga warga Molo.

Mama Aleta yang pernah menerima beberapa penghargaan Nasional dan Internasional ini akan tetap menjaga lingkungan alam. Pada tahun 2013 kemarin, Mama Aleta kembali mendapatkan pengakuan di mata internasional dengan penghargaan Hadiah Lingkungan Hidup Goldman 2013 karena perjuangannya yang konsisten untuk mempertahankan dan menjaga lingkungan hidup di Molo yang menjadi tanah kelahirannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *