Home / in-Spiration / Potret Sang Pejuang Lingkungan Mangrove
Potret Sang Pejuang Lingkungan Mangrove

Potret Sang Pejuang Lingkungan Mangrove

Rizophora atau yang lebih akrab dan di kenal dengan mangrove merupakan salah satu jenis pohon yang tumbuh diantara perairan sungai dan air laut. Tanaman mangrove awalnya tidak begitu di kenal oleh masyarakat, terutama mengenai manfaat yang ada di balik tumbuhnya pepohonan mangrove.

Lulut Sri Yuliani, perempuan kelahiran 24 Juli 1965 yang pernah menjabat sebagai Staf Pengajar di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Surabaya tertarik untuk memperhatikan tanaman yang banyak tumbuh di pesisir pantai timur Surabaya. Terlepas dari penyakit stroke yang pernah menyerangnya, Ibu Lulut mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan masyarakat dan konservasi lingkungan. Sebagai Ketua Forum Peduli Lingkungan kecamatan Rungkut, adalah awalnya Lulut bertemu dan benar-benar mengenal tumbuhan yang banyak dijumpai di Rungkut ini.

Awal Perjuangan dalam Pemanfaatan Mangrove

Langkah pertama yang menjadi kesulitan bagi Ibu dari satu anak ini adalah bagaimana agar masyarakat peduli terhadap mangrove (bakau). Dengan perlahan, akhirnya pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan. Karena lulut mendapatkan solusi mengenai pemanfaatan dari keseluruhan tanaman mangrove yang tumbuh di sekitar Kedung Baruk dan Wonorejo, kecamatan Rungkut.

Buahnya yang patah sebelum matang pun bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat bahan sabun cair. Daunnya dapat digunakan sebagai sayur atau lalapan. Buahnya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna dan pengawet kain, karakter kemerahan hingga warna cokelat tua bisa diciptakan tergantung komposisinya. Hingga akhirnya, Ibu Lulut menciptakan sabun cair yang ramah lingkungan. Sirvega, sabun cair mangrove toga adalah sabun cair pencuci batik yang terbuat dari mangrove berjenis Jijibus Jujuba, lerak dan lidah buaya. Ibu Lulut berharap sabun cair Sirvega dapat lebih bermafaat karena lebih ramah lingkungan.

Pelopor dan Perintis Batik Motif Mangrove

Sebagai perintis batik mangrove, Ibu Lulut memiliki sebuah visi bahwa kecintaannya terhadap mangrove diharapkan dapat membawa perubahan ke arah yang positif terhadap lingkungan. Dengan motif khusus yang bermotif mangrove, batik tersebut bukan hanya sekedar di buat lalu di jual. Namun segala keuntungan yang didapatkan dari penjualan batik adalah untuk konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan riset.

Beliau mendirikan SeRu, kependekan dari Seni Batik Mangrove Rungkut Surabaya dan juga UKM Griya Karya Tiara Kusuma yang bertujuan sebagai media untuk promosi serta distribusi segala produk dari mangrove yang di produksi oleh warga setempat. Setiap orang yang bergabung dengan komunitas batik SeRu diwajibkan untuk menanam mangrove. Hal tersebut adalah sebuah cermin untuk menggambarkan bahwa orang tersebut benar-benar mencintai lingkungan. Dimana batik yang terjual nantinya akan dilengkapi dengan sertifikat dan hanya diterbitkan satu jenis / desain setiap motif batik. Oleh karena itu, dengan membelinya, secara tidak langsung pembeli tersebut juga telah menanam satu buah pohon mangrove.

Hingga saat ini kabarnya telah lebih dari 2100 motif dan diharapkan akan terus muncul desain bertema lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *